Pertanyaan 

Sore itu angin sedikit bertiup kencang

Rintik hujan menyapa bumi perlahan

Aku berjalan melangkah pulang dengan sejuta pikiran yang berputar sejak pagi di kepalaku. 

Pertanyaan yang masih sama dengan 10  tahun ini tak henti-hentinya ada dibenak ini. Aku bingung kemana lagi aku harus mencari jawaban. 

Semakin kucari, aku semakin tidak mendapatkan  jawaban dari pertanyaan itu.

Kadang pertanyaan masih sama, pertanyaan yang membuat nafas ini tertarik agak panjang. Ah benar, mata juga sedikit berkaca-kaca.

Sebuah pertanyaan yang tak pernah hilang sampai saat ini aku duduk, bahkan menarik nafasku lebih panjang lagi. 

Sebuah pertanyaan..

“Dimana harus kutemukan sosok tulus sepertimu bapak?”

Andai aku Tak Terlihat Lagi

Jika aku tak bisa memelukmu lagi

Berdirilah di bawah matahari pagi

Rasakan hangatnya cahaya itu menyentuhmu

Itulah rasanya pelukanku untuk mu

Jika kamu tak bisa melihat lagi senyumku

Tataplah langit kala malam

Jika kau lihat satu bintang terang

Itulah aku yang sedang tersenyum kepadamu

Jika kau tidak lagi bisa mendengarkan aku

Diamlah dan nikmati suara angin, mungkin terdengar seperti suara rinduku kepadamu

Jika kau tak dapat lagi merasakan bagaimana cinta ini mengalir padamu

Berdirilah di bawah hujan, rasakan setiap derasnya air jatuh, seperti itulah cinta yang kucurahkan untukmu

Jika aku tak dapat hadir untukmu lagi rasakan matahari pagi, tataplah bintang, nikmati suara angin dan berdirilah di bawah hujan

Aku hadir untukmu dimana pun kamu memanggilku walau dalam sunyi 

Batangtoru, 29 Januari 2017

21.02

Gara-gara Ira Koesno

Ah gara-gara Ira Koesno saya susah tidur malam ini. Pikiran melayang kepada sosok bapak saya. Beliau sangat mengagumi Desi Ratnasari dan Ira Koesno waktu saya SD dulu. 

Kenangan di kala sore hari, ketika Liputan 6 disiarkan setiap jam 6 sore, setiap itu juga Bapak saya sudah duduk manis didepan TV lengkap dengan sarung andalannya. 

Beliau sangat menggagumi sosok wanita ini, cantik, pintar dan tegas. Beberapa kalo beliau berkomentar mengenai kekagumannya dengan sosok si anchor cantik ini.

Pak, kalau bapak bisa mendengar dan melihat dari surga. Aku hanya ingin bilang “Aku merindukanmu”. Belum kutemukan sosok sepertimu lagi. 

Ahhh semuanya gara-gara Ira Koesno!

Batangtoru, 13 Januari 2017

23.35WIB

Hei Angin! 

Hei angin..

Tiupkan padanya rindu ini

Biarkan kulitnya merasakan tiupan rindu ini bagai pelukan hangat dariku

Biarkan bibirnya merasakan kecupan lewat tiupan rindu yang kau sampaikan

Hei angin..

Sampaikan semua rasa ini untuknya

Biarlah hembusmu meniupkan semuanya

Tapi jangan kau bawa pergi rasa ini bersama tiupan kencangmu

Hanya lewat hembusan anginmu ingin kusampaikan rindu ini

Hei kamu, i miss you! 😘

Kesia-sian

Jangan suka lupa diri

Apalagi masalah hati

Mudah untuk mendapat pencinta

Mudah menarik perhatian seseorang

Mudah hanya untuk membuat orang jatuh cinta 

Mungkin karena kita pintar

Atau kamu punya senyum manis 

Bisa juga lirikan hangatmu 

Mudah menaklukan banyak hal

Tapi akan ada satu titik dimana semuanya tidak berarti

Ketika kita sadar ada hal berarti hilang dari kita

Hilangnya ketulusan seseorang mencintai kita

Tanpa harus kita taklukan

Kesungguhan seseorang menantimu 

Kesabaran seseorang menunggu emosimu reda 

Ketika hilang kamu baru sadar bahwa tak ada satu pun yang akan menggantikannya

Saat itu juga kamu hanya bisa memandangnya dari jauh

Meratapi kebodohan menyia-nyiakan seseorang dengan kesungguhan hati mencintaimu

Meratapi bahwa dia tidak pernah akan kembali

Dan tidak ada yang bisa menggantikan sosok dengan senyuman dan pelukan hangat

Bandung, 4 November 2016

18.30WIB

11 tahun lalu

Pertemuan singkat yang mengajarkan saya untuk menghargai seseorang, terlihat atau tidak terlihat olehnya, berusahalah menghargai keberadaan seseorang.

Walau kita tak pernah tahu bahwa ini akan sia-sia dilakukan atau tidak. Setidaknya berbuat baik tidak pernah membuat kita menyesal didepan. 

Mungkin terkadang kita terlambat menyadari arti seseorang ketika kita memilikinya. Tapi ketika mereka pergi dan menghilang, arti kehadirannya tak akan tergantikan. 

Cerita lalu kita memang terbilang singkat, tapi percayalah sampai detik ini saya belajar banyak dari kamu. Belajar untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu yang saya miliki. Tidak ingin menyakiti lagi seseorang hanya karena hal bodoh. 

Terimakasih pernah ada dalam hidupku dan mengajarkan aku banyak half, sebenarnya ada satu yang ingin aku sampaikan saat pertemuan lalu “Maaf untuk semua kesalahanku dimasa lalu, maaf untuk menyia-nyikan semua kebaikanmu 11 tahun lalu” 

Bandung, 15 Agustus 2016

23.42 WIB

Rindu dalam Jarak


Jarak ini rindu.
Hamparan awan yang kupandang itu cinta.

Bumi yang kulihat itu kamu.
Besarnya rinduku tak terbatas oleh jarak.
Cinta putihku untukmu ini luas seperti hamparan awan.

Dan kamu itu bumi, tempat dimana aku berpijak.

——————————–

Ditulis dari 20,000ft langit Sumatera Utara.

4 Juli 2016

08.30WIB

Dan itu kamu

Kamu itu siapa? 

Kamu itu darimana?

Mengapa kini kamu menjadi sangat berarti?

Mengapa kini kamu selalu kurindukan?

Mengapa kamu?

Kamu yang dulu aku tak tahu siapa

Kamu yang aku Tak kenal

Bahkan tak pernah kudengar namanya

Kamu..iyah kamu

Yang kini hadir menyapa di pagi hari..memberi kecupan selamat pagi dengan lembut

Kamu dan itu kamu 

Denpasar, 23 Juni 2016

10.10WITA

Perbedaan

Apa yang salah dengan perbedaan?

Bukankah Tuhan menciptakan manusia dengan penuh perbedaan

Tak ada seorangpun yang Tuhan ciptakan begitu identik

Walau mungkin kita pernah bertemu seseorang yang mirip dengan kita

Mirip bukan berarti sama, bukan?

Perbedaan seharusnya indah, memberi warna dalam hidup kita

Seperti pelangi dengan paduan 7 warna indah di langit yang hadir setelah hujan

Seperti tuts piano hitam putih yang memberikan dentingan hingga alunan indah di telinga

Akankah dunia ini menyenangkan tanpa perbedaan?

Haruskah perbedaan membuat kita membenci satu sama lain?

Haruskah perbedaan memisahkan rasa yang ada hingga hari ini?

Entah apa yang dunia lihat hari ini, ketika perbedaan membuat orang saling mencaci maki dengan penuh kebencian

Apakah Tuhan membuat dunia dengan berjuta perbedaan hanya agar manusia saling membenci?

Rasanya Tuhan itu penuh kasih, kebencian bukanlah yang DIA kehendaki.

Masihkah kita akan hidup dalam perbedaan dan saling membenci ketika kita merasa dikasihi oleh Tuhan Sang Pencipta?

Karena ketika kita merasa hidup kita penuh kasihNYA, maka kita secara otomatis akan mengalirkan kasih itu ke seluruh manusia walaupun berbeda.

Masihkah kita perlu membenci perbedaan?

Denpasar, 21 June 2016

09.27 WITA