D o n g g a l a

Palu, 20 Agustus 2012

Cuma ingin cerita tentang perjalanan singkat ke kota terdekat dari Palu, yaitu Donggala. Kota tua yang jaraknya sekitar 40km dari Palu ini dan ditempuh sekitar 30 menit saja dengan mobil. Sudah beberapa kali ke sana bersama rekans sekantor tapi waktu itu wisata ke Tanjung Karang, yang emang terkenal punya pantai apik. Sebuah pantai pasir putih dengan laut biru yang jernih.

Nah kemarin beda, kita ga ke pantai buat renang-renang. Tapi nemenin temen kantor yang penasaran pengen cari kamera kuno yang katanya masih banyak di kota itu. Sekalian cari objek foto yang bagus di sana. Karena Donggala memang terkenal sebagai KOTA ANTIK, yang konon katanya banyak sekali beredar barang-barang kuno antik dengan harga terjangkau.

Dengan perjalanan kurang dari sejam dari Palu, masuk juga gw ke Kota Tua yang memang setiap sudutnya menarik. Sulit memang mencari bangunan modern di sana, hampir semuanya bangunannya tua. Dan cocok banget karena kemarin lagi belajar foto hitam putih ketularan sang pacar yang lagi hobi foto BW.😀

Setelah berputar-putar manis di kota itu, akhirnya perhentian pertama adalah di Jalan Bioskop. Unik kan namanya? Padahal setelah gw perhatikan sekeliling ga ada bangunan yang menunjukkan bekas bioskop di sana. Entahlah kenapa namanya seperti itu..

20120825-102155.jpg

Dan beginilah suasana sekitar jalan bioskop saat itu, sepi, jelas saja hari itu masih hari ke 2 lebaran. Entah pada mudik atau hanya sekedar siang. Yang jelas kota itu sangat lengang. Terlihat bangunan disana masih sangat sederhana dan terkesan klasik. Lihat saja masih ada WARPOSTEL yang saat ini sudah sulit sekali ditemukan di kota-kota besar.

20120825-102916.jpg

20120825-113454.jpg

Uniknya di ujung jalan ini ada rumah asli Donggala dari kayu yang walau hampir saja rubuh tapi masih digunakan untuk tinggal. Dan nampak beberapa keluarga menempati rumah itu. Menyedihkan melihat kondisi rumah itu, tapi mungkin mereka punya banyak alasan untuk tetap tinggal di situ. Sekejap saja teman kantor gw sang penggila kamera analog berhenti dan memutuskan rumah itu menjadi objek foto pertamanya di kota itu. Dan gw ngikut, dengan modal iPhone 4 lawas gw untuk hunting foto. Soalnya DSLR gw jadi milik ade gw, kamera prosumer gw tinggal di rumah dan kamera hp adalah yang cukup simple untuk dibawa kemana-mana. Ini hasil laporan lensa hape gw mengenai rumah di Jalan Bioskop itu.

20120825-120525.jpg

20120825-120411.jpg

Siang yang panas dan rumah itu tampak ramai, cukup ramailah. Kebetulan ada seorang mamang bakso keliling yang mangkal  di depan rumah itu dan lumayan buat gw pas lagi laper bisa mengangganjal perut sambil nungguin yang foto-foto. Alhasil gw beli beberapa tusuk bakso (bener deh cuma beberapa saja ga banyakk … :D), ikut mengantri dengan anak-anak kecil yang juga sedang membeli bakso itu. Memang lucu anak-anak itu, ketika kamera dikeluarkan, semua tanpa segan langsung berbaris dan memberikan senyum terbaiknya.

20120825-103927.jpg

20120825-102605.jpg

20120825-104046.jpg

Setelah puas ngambil sekitar rumah itu akhirnya kami lanjut jalan, sebenernya nyari Dermaga Tanjung Batu yang menurut info ada bangunan peninggalan Belanda yang merupakan tempat pelelangan ikan. Tapi pas lagi nyari temen gw tiba-tiba berhenti di depan sebuah warung yang bertuliskan Fujifilm. Feelingnya bilang ada kamera tua yang mungkin bisa dia tawar dan ternyata benar. Setelah ngobrol dengan sang pemilik warung dia memang punya kamera tua tapi sayang harga yang ditawarkannya 10x lipat dari harga pasar. Teman gw memutuskan untuk ga beli.

Dan kami pun melanjutkan perjalanan mencari si Dermaga. Setelah tersesat akhirnya kami memutuskan bertanya ke penduduk sekitar dan voila! ternyata letak dermaganya sudah dekat dari tempat kami bertanya. Jalan lurus sekitar 1 km, belok ke kiri memasuki sedikit jalan kecil dan tiba-tiba sebuah lapangan besar dengan bangunan panjang dari seng nampak di depan mata. Dan jeprat-jepret pun di mulai lagi. Dan gw hanya team penggembira.

3 buah gudang seng dan sebuah rumah klasik yang siap rubuh terlihat di tempat ini. Tapi dibalik bangunan itu, pemandangan birunya langit dan laut sangat memanjakan mata saat itu. Sungguh menyenangkan melihatnya. Sayang sekali bangunan-bangunan peninggalan Belanda ini agak terbengkalai. Rasanya menarik jika bangunan tersebut tetap apik terjaga. Gw yakin akan banyak pengunjung ke sana walau hanya sekedar untuk berfoto-foto.

20120825-105256.jpg

“Puas-puasin ambil fotonya sebelum saya rubuhkan bangunan itu besok.”

Sebuah teriakan dari pria keturunan dari atas motor ketika kami sedang mengambil foto bangunan tua ini.

Sebenernya sayang sekali hingga dirubuhkan dan kalo mesti diganti bangunan modern. Nampaknya bangunan ini cukup bersejarah, mungkin sebuah kantor atau koperasi di jaman dulu. Karena di atas pintu utama terdapat tulisan yang sedikit kurang jelas, hanya Badan Usaha no 1900.

20120825-105334.jpg

20120825-105415.jpg

Tiga gudang seng ini nampak seperti hanggar pesawat kecil, tapi gw hanya mendengar bahwa itu adalah tempat pelelangan ikan. Desainnya cukup apik, sayang besi-besi penyangganya sudah mulai keropos dan terlihat jelas gudang no 1 saja sudah hampir rubuh. Isi dari si gudang no 1 ini udah ga karuan ditambah bau ikan yang cukup menyengat.

20120825-105608.jpg

20120825-105647.jpg

20120825-105727.jpg

20120825-105752.jpg

Dan inilah gambar perairan sekitar dermaga. Sebenernya birunya sangat memanjakan mata, hanya biar konsisten gw tampilin foto hitam putih semua. Gw janji bikin Donggala in colours di halaman lain.🙂

Lautan yang membiru dengan kapal nelayan berbendera Indonesia cukup banyak siang itu. Sungguh menyenangkan bisa menemukan tempat seperti ini.

20120825-110434.jpg

20120825-110252.jpg

20120825-105838.jpg

20120825-110513.jpg

Dan perjalanan ini pun berakhir sekitar pukul 5 sore. Puas rasanya jalan-jalan di Kota Donggala hari itu. Walau baru hanya bagian kecil saja. Dan mungkin kalo bisa liburan lagi, ingin rasanya melihat sisi lain kota ini.

Hanya kesan yang gw dapet dari kota ini adalah betapa kita seharusnya bisa menghargai sejarah dalam bentuk apapun. Bangunan modern dan hal modern lainnya mungkin lebih keren, tapi nilai sejarah yang tinggal dalam sebuah bangunan atau apapun itu, tentu nilainya tak dapat dibandingan dengan suatu nilai modernisasi.

Semoga teman yang membaca bisa ikut menikmati perjalanan ke Donggala ini.

3 thoughts on “D o n g g a l a

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s